Minggu lalu saya iseng menghitung berapa banyak plastik yang saya buang dalam sehari. Hasilnya bikin saya geleng-geleng kepala sendiri. Ternyata cuma dari bungkus sayur, kantong kresek, sampai gelas air mineral, sampah plastik saya lumayan banyak juga. Padahal saya sudah pensiun, waktu luang lebih panjang, tapi kok ya saya masih ikut menumpuk sampah seperti dulu waktu masih kerja.
Dari situ saya kepikiran bikin satu proyek kecil. Bukan proyek besar yang butuh dana atau tenaga ekstra. Cukup tujuh hari, satu kebiasaan kecil per hari, khusus buat saya sendiri. Kalau kamu juga sudah masuk masa pensiun dan pengin mulai dari hal sederhana, ikut saja rencana saya ini. Nggak ada yang ribet, saya janji.
Hari Pertama: Berburu Kantong Kain di Lemari
Saya mulai dari yang paling gampang. Pagi-pagi saya buka lemari dapur dan cari kantong kain yang dulu sering saya dapat dari seminar atau acara arisan. Ternyata ada tiga buah, masih bagus, cuma terlupakan. Saya cuci, jemur, lalu lipat rapi dan taruh di dekat pintu.
Sejak hari itu, setiap kali mau ke pasar atau warung, saya bawa satu kantong kain. Kecil sih, tapi lumayan mengurangi kantong kresek yang biasanya saya terima. Ada satu hal lucu: penjual sayur langganan saya sampai heran dan bilang, "Bu, sekarang pada sadar ya?" Saya cuma senyum. Kadang perubahan besar memang dimulai dari satu orang yang bawa kantong sendiri.
Hari Kedua dan Ketiga: Menyulap Sisa Makanan Jadi Kompos
Hari kedua saya mulai memisahkan sisa sayur dan kulit buah dari sampah lain. Saya nggak beli alat mahal. Cukup ember bekas cat yang saya lubangi bawahnya, lalu saya taruh di sudut belakang rumah. Sisa sayur masuk situ, ditutup tanah tipis-tipis, selesai.
Hari ketiga saya lebih serius. Saya bikin dua wadah: satu untuk sampah organik, satu untuk anorganik. Anak saya yang datang berkunjung sempat ketawa, katanya saya jadi petugas kebersihan sendiri. Tapi saya nggak peduli. Setelah seminggu, sampah dapur saya jauh berkurang. Dan yang paling menyenangkan, tanah kompos itu nanti bisa saya pakai buat tanaman cabai di pot depan rumah.
Kenapa Kompos Cocok buat Pensiunan?
Simpel saja. Kompos nggak butuh tenaga besar, nggak butuh keluar rumah, dan hasilnya kelihatan. Buat kita yang sudah sepuh, kegiatan seperti ini justru bikin pagi terasa punya tujuan. Daripada cuma duduk nonton TV sambil ngemil, mendingan ngurus ember kompos sambil menyiram tanaman.
Hari Keempat: Matikan yang Nggak Dipakai
Hari keempat saya agak malu sendiri. Ternyata di rumah saya banyak colokan yang tetap nyala walau alatnya sudah nggak dipakai. Charger, televisi, rice cooker, semua diam-diam makan listrik. Saya keliling rumah dan mencabut satu per satu.
Sejak itu saya bikin aturan pribadi: kalau nggak dipakai, cabut. Kalau keluar kamar, matikan lampu. Nggak cuma hemat listrik, tagihan juga turun dikit. Buat pensiunan yang penghasilannya tetap, penghematan kecil begini lumayan terasa di akhir bulan. Dan bonusnya, kita ikut mengurangi beban pembangkit listrik yang biasanya masih pakai bahan bakar fosil.
Hari Kelima: Jalan Kaki ke Tempat yang Dekat
Ini hari favorit saya. Saya putuskan untuk nggak pakai motor kalau jaraknya di bawah satu kilometer. Ke warung, ke masjid, ke rumah tetangga, semua saya jalan kaki. Awalnya pegal, tapi lama-lama jadi nikmat.
Selain mengurangi asap kendaraan, jalan kaki juga bikin badan lebih segar. Saya jadi kenal lebih banyak tetangga, sering berhenti ngobrol di depan pagar. Dua manfaat sekaligus: lingkungan lebih bersih, silaturahmi lebih erat. Kadang saya bawa kantong kain juga, sekalian belanja sayur di jalan.
Hari Keenam: Bereskan Barang yang Nggak Terpakai
Hari keenam saya buka gudang. Astaga, banyak sekali barang yang sudah bertahun-tahun nggak disentuh. Baju lama, majalah, peralatan dapur rusak, sampai sepeda anak yang sudah berkarat. Saya pilah jadi tiga tumpukan: yang masih layak, yang bisa didaur ulang, dan yang harus dibuang.
Yang masih layak saya berikan ke tetangga atau panti asuhan. Yang bisa didaur ulang saya setorkan ke bank sampah dekat rumah. Ternyata bank sampah itu masih aktif dan menerima botol plastik, kardus, dan kaleng. Saya pulang bawa uang lima puluh ribu dan perasaan lega. Gudang bersih, lingkungan terbantu, dompet sedikit terisi.
Memberi barang yang masih berguna ke orang lain jauh lebih memuaskan daripada menyimpannya sampai rusak.
Hari Ketujuh: Menanam Satu Hal Hijau
Hari terakhir saya tutup dengan menanam. Nggak perlu lahan luas. Saya cuma pakai tiga pot bekas, saya isi tanah dan kompos dari hari kedua, lalu saya tanam bibit cabai, seledri, dan kemangi. Semuanya bibit murah dari pasar.
Sambil menanam, saya mikir. Selama ini saya selalu merasa perubahan lingkungan itu urusan pemerintah, urusan anak muda, urusan aktivis. Padahal saya sendiri, seorang pensiunan dengan waktu luang, juga bisa ikut. Nggak perlu demo, nggak perlu bikin yayasan. Cukup mulai dari rumah sendiri, dengan langkah kecil yang bisa saya jalani setiap hari.
Setelah Seminggu, Apa yang Berubah?
Jujur, nggak ada perubahan besar. Sampah saya nggak langsung hilang, tagihan listrik cuma turun sedikit, dan tanaman saya masih kecil. Tapi ada yang berubah di kepala saya. Saya jadi lebih sadar setiap kali mau membuang sesuatu atau memakai listrik. Kesadaran itu, menurut saya, adalah hasil paling berharga dari tujuh hari ini.
Kalau kamu juga pensiunan dan pengin mencoba, nggak perlu ikut urutan saya persis. Pilih saja satu langkah yang paling gampang buat kamu. Mulai dari situ. Soalnya, lingkungan nggak butuh kita jadi sempurna. Lingkungan cuma butuh kita mulai, walau pelan-pelan, walau cuma dari dapur sendiri.
Saya sudah mulai. Kamu kapan?