Malam itu jam dua pagi, saya berdiri di depan tempat sampah dengan popok bekas di tangan. Baunya khas, lengket, dan saya tiba-tiba kepikiran sesuatu yang aneh: ke mana perginya semua ini?
Anak saya baru berumur tiga bulan. Dalam sehari, kami bisa pakai delapan sampai sepuluh popok. Kalau dikali 30 hari, itu sekitar 300 popok sebulan. Dikali setahun? Angkanya bikin saya melek sampai subuh.
Sebelum punya anak, saya tipe orang yang suka banget beli tumbler dan tote bag. Saya pikir saya sudah cukup "hijau". Ternyata punya bayi mengubah segalanya. Bukan cuma soal popok, tapi soal bagaimana saya melihat sampah, konsumsi, dan masa depan anak saya sendiri.
Kejutan Pertama: Sampah Kami Naik Dua Kali Lipat
Sebelum ada bayi, satu kantong sampah kami bisa penuh dalam tiga hari. Sekarang? Setiap hari. Kadang dua kantong sehari kalau lagi musim pipis banyak.
Saya sempat iseng nimbang. Dulu sampah kami sekitar 1,5 kilogram per hari untuk berdua. Setelah bayi lahir, angkanya naik jadi hampir 3 kilogram. Dua kali lipat, cuma gara-gara satu manusia mungil yang beratnya belum sampai tujuh kilo.
Yang bikin saya agak kaget, sebagian besar isinya adalah popok. Sisanya tisu basah, kemasan susu formula (walau kami kombinasi), dan botol-botol kecil yang entah kenapa cepat habis.
"Kamu nggak bisa jadi orang tua yang peduli lingkungan kalau kamu nggak pernah lihat sendiri isi tempat sampahmu."
Kalimat itu keluar dari mulut istri saya waktu kami lagi beres-beres dapur. Dan saya diam cukup lama. Dia benar.
Eksperimen Kecil: Popok Kain dan Rasa Malas yang Jujur
Saya mulai googling soal popok kain. Banyak artikel bilang ini solusi paling ramah lingkungan. Saya semangat. Saya beli sepuluh buah, plus liner dan ember khusus.
Dua minggu pertama, saya merasa seperti pahlawan lingkungan. Cuci, jemur, lipat. Anak saya pakai popok kain di siang hari, popok sekali pakai di malam hari. Kompromi, pikir saya.
Masuk minggu ketiga, kenyataan menampar. Cucian numpuk. Air dan listrik naik. Anak saya ruam. Istri saya capek. Saya juga capek, dan saya kerja dari rumah sambil sesekali harus mencuci popok di sela meeting.
Saya nggak mau bohong di sini: kami nggak sepenuhnya berhasil. Sekarang kami pakai popok kain mungkin tiga sampai empat kali seminggu, bukan setiap hari. Nggak heroik, tapi jujur.
Pelajaran yang Saya Dapat dari Eksperimen Gagal Ini
- Ramah lingkungan itu bukan soal sempurna atau nggak. Ini soal mengurangi, bukan mengganti total.
- Konteks keluarga kamu penting. Kalau kamu kerja shift malam dan punya bayi yang rewel, popok kain mungkin bukan prioritas sekarang.
- Jangan beli banyak di awal. Coba dua-tiga buah dulu. Saya beli sepuluh dan sekarang sebagian jadi lap dapur.
- Libatkan pasangan. Saya awalnya jalan sendiri dan itu melelahkan. Setelah kami bagi tugas, semuanya lebih masuk akal.
Hal-Hal Kecil yang Ternyata Lebih Masuk Akal
Setelah drama popok kain, saya sadar perubahan besar sering gagal. Jadi saya pindah ke hal-hal kecil yang nggak bikin hidup berantakan.
Pertama, kami berhenti beli tisu basah dalam jumlah gede. Kami ganti dengan kain lap kecil yang dicelup air hangat. Lebih murah, lebih sedikit sampah, dan kulit bayi kami justru lebih bersih.
Kedua, kami mulai beli susu formula dalam kemasan besar, bukan sachet. Selisih harganya lumayan, dan sampahnya jauh lebih sedikit. Saya nggak nyangka hal sesederhana ini bisa menghemat satu kantong plastik per minggu.
Ketiga, kami mulai mencuci baju bayi dengan air dingin dan mengeringkan di bawah sinar matahari. Bukan cuma hemat listrik, tapi juga bikin baju lebih awet. Anak saya cepat besar, jadi baju yang awet itu penting banget buat dompet.
Keempat, kami mulai beli mainan dan baju second. Ini agak mengejutkan buat saya sendiri, karena dulu saya agak gengsi soal barang bekas. Ternyata banyak baju bayi yang dipakai cuma dua-tiga kali lalu disimpan. Sekarang kami rutin tukar baju dengan sepupu dan teman kantor.
Yang Sebenarnya Saya Pelajari Sebagai Orang Tua Baru
Punya anak bikin saya sadar bahwa lingkungan bukan topik abstrak. Ini soal udara yang akan dihirup anak saya, air yang akan diminumnya, dan tempat sampah yang akan dia warisi.
Saya nggak mau jadi orang tua yang cuma ngomong soal cinta lingkungan tapi tiap hari buang tiga kilogram sampah tanpa mikir. Tapi saya juga nggak mau jadi orang tua yang stres karena merasa harus sempurna.
Jadi saya pilih jalan tengah. Kadang kami pakai popok kain, kadang nggak. Kadang kami beli sayur tanpa plastik, kadang lupa bawa tote bag dan pulang bawa tiga kantong plastik. Kadang kami kompos sisa makanan, kadang cuma buang ke tempat sampah biasa.
Dan itu nggak apa-apa. Yang penting kami terus mencoba, terus ngobrol, dan terus menghitung.
Satu Hal yang Saya Harap Kamu Coba Minggu Ini
Kalau kamu orang tua baru dan bingung mulai dari mana, coba satu hal saja: lihat isi tempat sampahmu selama tiga hari. Cuma lihat, nggak perlu langsung berubah.
Dari situ kamu akan tahu apa yang paling banyak kamu buang. Mungkin popok. Mungkin kemasan makanan. Mungkin tisu. Setelah tahu, pilih satu hal yang paling gampang diubah. Bukan yang paling keren, bukan yang paling banyak diomongin di media sosial. Yang paling gampang buat keluarga kamu.
Buat saya, itu berarti mulai dari tisu basah dan kemasan susu. Bukan popok kain yang bikin saya stres dua minggu.
Anak saya sekarang delapan bulan. Sampah kami masih banyak, tapi nggak sebanyak dulu. Kami masih jauh dari sempurna. Tapi setidaknya, waktu saya berdiri di depan tempat sampah jam dua pagi, saya tahu ke mana perginya barang-barang itu, dan saya tahu apa yang bisa saya kurangi besok.
Dan buat saya, itu sudah cukup jadi awal.