Anak gue umur lima tahun waktu itu. Suatu sore dia lihat gue buang botol plastik ke tempat sampah yang sama dengan sisa nasi. Dia cuma diam, tapi matanya nempel ke tangan gue. Beberapa hari kemudian, dia menirukan hal yang sama. Botol yakult dia buang ke tempat sampah organik. Gue kaget, lalu sadar: dia bukan sedang belajar dari buku, dia sedang belajar dari gue.
Dari situ gue dan istri mulai mikir. Kami tinggal di apartemen dua kamar di Jakarta Selatan. Nggak ada halaman, nggak ada tempat luas untuk kompos. Tapi bukan berarti kami nggak bisa ngapa-ngapain. Yang kami punya cuma dapur kecil, balkon sempit, dan satu anak yang sedang rajin meniru.
Mulai dari Satu Tempat Sampah Tambahan
Awalnya kami cuma nambah satu ember bekas cat di bawah wastafel dapur. Kami kasih label pakai spidol: "SISA MAKANAN". Ember itu jadi tempat khusus kulit buah, sisa sayur, dan tulang ayam. Ember lama yang di dapur tetap dipakai untuk plastik, kemasan, dan tisu.
Kelihatannya sepele. Tapi begitu dipisah, kami baru sadar betapa banyak sisa makanan yang kami buang tiap hari. Kadang ember kecil itu penuh cuma dalam dua hari. Padahal kami cuma bertiga. Bayangkan keluarga yang lebih besar.
Anak gue jadi punya tugas baru yang dia suka: buang kulit pisang ke ember "SISA MAKANAN". Dia melakukannya seperti sedang main game. Kadang dia sengaja bilang, "Ini bukan plastik ya, Bun?" sambil ngangkat kulit jeruk di depan muka gue. Lucu, tapi itu artinya dia mulai mikir.
Trik yang Bikin Anak Nggak Bosan
- Bikin label gambar, bukan cuma tulisan. Anak lima tahun belum lancar baca, tapi dia paham gambar daun atau gambar botol.
- Kasih "jabatan" resmi. Anak gue kami sebut "Kapten Sisa Makanan". Dia bangga banget.
- Jangan marah kalau salah. Awal-awal dia sering keliru. Kami cuma bilang, "Hmm, coba lihat lagi, ini plastik atau daun?"
- Rayakan hal kecil. Tiap ember penuh, kami bilang, "Wah, ini bisa jadi pupuk lho." Nggak perlu hadiah mahal.
Sampah Organik yang Nggak Bisa Dibuang Sembarangan
Nah, ini bagian yang bikin kami belajar banyak. Ternyata memisah sampah doang nggak cukup. Sampah organik kalau dibuang ke TPS biasa, tetap berakhir di tempat pembuangan akhir yang menumpuk dan mengeluarkan gas metana. Kami nggak mau berhenti di tengah jalan.
Istri gue cari-cari di internet, ketemu metode kompos sederhana pakai ember tumpuk. Namanya kompos takakura, katanya bisa dipakai di apartemen. Kami beli dua ember, bor lubangnya, dan coba. Dua minggu pertama gagal total. Sisa sayur jadi bau, ada belatung kecil. Anak gue sampai nggak mau dekat balkon.
Kami hampir nyerah. Tapi tetangga sebelah, yang kebetulan aktif di komunitas bank sampah, ngasih tips: jangan kebanyakan air, campur dengan sekam atau tanah kering, dan aduk tiap dua hari. Kami coba lagi. Kali ini berhasil. Setelah sekitar enam minggu, sisa makanan kami berubah jadi kompos coklat gelap yang baunya seperti tanah hutan.
Anak gue bilang, "Bun, sampahnya jadi tanah ya?" Gue jawab, "Iya, sayang. Nggak semua yang kita buang itu benar-benar mati."
Kalimat itu keluar begitu aja, tapi gue rasa dia nyimpen sesuatu di kepalanya.
Yang Berubah di Rumah Kami Setelah Enam Bulan
Ini yang paling nggak gue duga. Memilah sampah bukan cuma soal lingkungan. Ada efek lain yang nyasar ke kebiasaan kami sehari-hari.
Pertama, kami jadi lebih hemat. Karena sadar berapa banyak makanan yang dibuang, kami mulai belanja lebih terukur. Nggak lagi beli sayur banyak-banyak terus busuk di kulkas. Uang belanja bulanan turun, nggak banyak sih, tapi kerasa.
Kedua, anak gue jadi lebih peduli. Suatu hari di mall, dia lihat anak lain buang gelas plastik sembarangan. Dia nggak menegur, tapi dia lihat gue dan bilang pelan, "Itu nggak dipisah ya, Bun." Gue cuma ngangguk. Nggak perlu ceramah.
Ketiga, kami jadi kenal tetangga. Ini yang paling nggak terduga. Karena ikut bank sampah di RT, gue dan istri jadi kenal beberapa keluarga lain yang ternyata juga pengin mulai. Kami sharing soal kompos, soal ember, soal anak yang suka nanya aneh-aneh. Ternyata banyak yang ngerasa sendirian, padahal sebenarnya nggak.
Kalau Kamu Mau Mulai, Mulai dari Mana?
Kalau kamu keluarga kecil di kota besar dan pengin mulai, jangan mikir harus langsung sempurna. Gue aja mulai dari salah buang botol di depan anak gue. Yang penting, mulai dari satu langkah kecil yang bisa kamu ulang tiap hari.
- Siapkan dua tempat sampah di dapur. Satu untuk sisa makanan, satu untuk sisanya.
- Cari tahu bank sampah terdekat. Biasanya di kelurahan atau RW.
- Kalau punya balkon, coba kompos ember tumpuk. Kalau nggak punya, titip ke bank sampah organik.
- Ajak anak jadi "petugas". Anak suka merasa penting.
- Jangan takut gagal di awal. Kami gagal dua minggu pertama, dan itu normal.
Yang gue pelajari dari enam bulan terakhir ini sederhana aja: anak nggak belajar dari apa yang kita bilang, tapi dari apa yang kita lakukan tiap hari. Kalau kita buang sampah sembarangan sambil ceramah soal lingkungan, dia akan meniru perbuatannya, bukan ceramahnya. Tapi kalau kita konsisten memilah, meskipun rumah kecil, meskipun balkon sempit, dia akan tumbuh dengan kebiasaan itu tanpa perlu diajari panjang lebar.
Dan lucunya, gue yang awalnya cuma pengin ngajarin anak, malah ikut berubah. Sekarang gue lebih sadar saat beli kemasan, lebih mikir saat mau buang sesuatu. Semua gara-gara satu sore, waktu anak gue diam dan memperhatikan tangan gue.
Kalau kamu punya anak kecil di rumah, coba perhatikan apa yang dia lihat dari kamu hari ini. Mungkin itu titik awal perubahan yang nggak kamu duga.